KUBU RAYA, SP – Matahari pagi baru saja menyinari Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Di sebuah rumah sederhana di Dusun Merpati, belasan perempuan tampak sibuk membelah ikan hasil tangkapan nelayan yang baru tiba dari laut.
Sebagian membolak-balik ikan yang dijemur di halaman, sebagian lagi mengiris ikan dengan cekatan di meja-meja kerja. Aroma laut bercampur garam memenuhi udara.
Rumah produksi UMKM Ikan Asin Kak Ros itu bukan sekadar tempat bekerja. Bagi banyak perempuan pesisir, tempat itu menjadi sumber penghidupan yang membantu menjaga dapur keluarga tetap mengepul.
“Ikannya baru datang tadi subuh. Jadi hari ini ibu-ibu agak sibuk karena harus mengejar proses penjemuran,” ujar Roslah, pemilik usaha, saat ditemui Suara Pemred, Rabu (3/6/2026).
Di sudut halaman belakang, beberapa bak besar berisi ikan segar tampak berjajar. Proses produksi dimulai dari pencucian ikan menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa kotoran dan lendir. Setelah itu ikan dipilah berdasarkan ukuran sebelum masuk ke tahap pembelahan.
Dengan gerakan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, para pekerja membelah ikan satu per satu. Pekerjaan yang terlihat sederhana itu membutuhkan ketelitian agar bentuk ikan tetap rapi dan kualitasnya terjaga. Setelah dibersihkan, ikan diberi garam sesuai takaran sebelum disusun di atas para-para penjemuran.

Saat cuaca cerah, proses penjemuran berlangsung selama satu hingga dua hari hingga kadar air berkurang dan tekstur ikan menjadi kering. Sesekali para pekerja membalik posisi ikan agar proses pengeringan merata.
“Kalau cuaca bagus pekerjaan lebih cepat selesai. Tapi kalau hujan, prosesnya bisa lebih lama karena kami harus menjaga kualitas ikan,” kata Roslah.
Menjelang sore, ikan yang telah kering dikumpulkan kembali untuk disortir berdasarkan ukuran dan kualitas. Setelah itu produk dikemas dalam berbagai ukuran sebelum dipasarkan ke toko oleh-oleh, pasar tradisional, pasar modern maupun pesanan pelanggan dari luar daerah.
Perempuan berusia 45 tahun itu dikenal hampir oleh seluruh warga Sungai Kakap. Sejak 2006, ia merintis usaha pengolahan ikan asin yang kini menjadi salah satu usaha rumahan yang cukup berkembang di desa tersebut.
“Dulu saya mulai dari kecil sekali. Kadang cuma beberapa kilogram ikan yang bisa diolah. Yang penting jalan dulu,” kenangnya.
Kini sekitar 50 kilogram ikan diolah setiap hari di rumah produksinya. Sebanyak 12 perempuan bekerja di sana dan seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar.
Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga maupun janda yang membutuhkan tambahan penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga.

Di antara mereka ada Jasimah, 62 tahun. Keriput di wajahnya menjadi penanda perjalanan hidup yang panjang, tetapi tangannya masih lincah membelah ikan satu per satu. Jasimah sudah bekerja bersama Roslah sejak awal usaha itu berdiri.
“Sudah lama sekali saya di sini. Dari usaha ini masih bisa membantu kebutuhan sehari-hari,” katanya singkat sambil tersenyum.
Rumahnya tepat berada di samping tempat produksi. Tak jauh darinya, sang anak, Sinta, 27 tahun, juga tampak sibuk bekerja. Ia mulai membantu Roslah sejak masih duduk di bangku SMP. Kini setelah berkeluarga dan memiliki seorang anak, pekerjaan membelah ikan tetap menjadi sumber penghasilan yang diandalkannya.
“Saya sudah seperti keluarga sendiri di sini. Dari remaja sampai sekarang masih kerja bersama Kak Ros,” ujar Sinta.
Menurutnya, suasana kerja yang akrab membuat para pekerja merasa nyaman bertahan selama bertahun-tahun.
“Kalau lebaran ada THR. Makan juga ditanggung. Yang paling penting, kami saling kenal karena sama-sama tetangga,” katanya.
Roslah mengaku memahami kondisi para pekerjanya. Sebagian menggantungkan kebutuhan harian dari upah yang diperoleh saat ada ikan yang bisa diolah.
“Kalau ikan tidak datang, otomatis ibu-ibu tidak bekerja. Biasanya ada yang kasbon dulu untuk kebutuhan rumah. Nanti dibayar setelah mereka bekerja lagi,” tutur Roslah.
Baginya, usaha yang dibangun selama hampir dua dekade bukan semata-mata untuk mencari keuntungan.
“Kalau usaha ini maju, saya maunya yang ikut merasakan juga ibu-ibu yang bekerja di sini. Karena mereka juga bagian dari perjalanan usaha ini,” ujarnya.

Tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, Rumah Ikan Asin Bilis Kak Ros kini juga menjadi tempat belajar. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah siswa sekolah menengah kejuruan dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi datang untuk menjalani praktik kerja lapangan maupun magang.
Mereka belajar mengenai pengolahan hasil perikanan, manajemen usaha mikro, pengemasan produk hingga pemasaran digital yang dijalankan UMKM tersebut.
“Sering ada anak-anak sekolah dan mahasiswa yang datang magang. Di antaranya dari SUPM Pontianak, Jurusan Pengolahan Hasil Laut Polnep dan Jurusan Kelautan Universitas OSO. Kami senang kalau pengalaman yang kami punya bisa dibagikan kepada mereka,” kata Roslah.
Bagi para peserta magang, rumah produksi itu menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman langsung tentang bagaimana sebuah usaha rumahan bertahan dan berkembang di tengah dinamika ekonomi pesisir.
Dari rumah sederhana di Dusun Merpati itu, produk Ikan Asin Kak Ros kini telah menjangkau pasar yang lebih luas. Produknya dipasarkan melalui toko oleh-oleh, pasar tradisional hingga sejumlah pasar modern di Pontianak. Berbagai pameran UMKM juga rutin diikutinya.
“Tidak sulit bagi warga Kota Pontianak dan sekitarnya kalau mau beli. Sudah ada di pusat oleh-oleh PSP Kebon Sajoek, ada di Mitra Anda dan Garuda Mitra Sungai Jawi, serta ada di Mitra Mart Kota Baru,” papar kak Ros.
Kemajuan teknologi membuka peluang baru. Melalui platform digital seperti Shopee dan PaDi UMKM, produknya mulai dikenal di berbagai daerah. Bahkan sebagian produknya telah menyeberang ke Malaysia.
“Setiap bulan biasanya ada pesanan dari Kuching. Belum banyak, paling sekitar lima kilogram sekali kirim. Tapi saya bersyukur karena berarti produk kami sudah dikenal sampai luar negeri,” katanya.
Di antara pelanggan setianya adalah Ngah Timah, warga Kota Baru, Pontianak. Perempuan itu mengaku sudah beberapa tahun mengenal dan membeli Ikan Asin Bilis Kak Ros untuk kebutuhan keluarganya.
“Awalnya saya tahu dari keluarga yang tinggal di Sungai Kakap. Setelah coba, ternyata cocok. Ikannya bersih dan rasanya pas,” ujar Ngah Timah.
Menurutnya, ikan asin bilis produksi Kak Ros hampir selalu tersedia di dapur rumahnya. Biasanya diolah menjadi sambal bilis atau digoreng sederhana sebagai lauk pendamping.
“Kalau sudah habis pasti saya cari lagi. Anak-anak di rumah juga suka,” katanya sambil tertawa.
Bagi Ngah Timah, kualitas yang terjaga membuatnya tetap menjadi pelanggan hingga sekarang.
“Sekarang banyak ikan asin dijual di mana-mana, tapi saya tetap cari yang punya Kak Ros karena sudah percaya kualitasnya,” ujarnya.
Roslah berharap pasar yang telah terbuka itu terus berkembang.
“Kalau pesanan bertambah, produksi juga bertambah. Artinya ibu-ibu di sini punya lebih banyak pekerjaan dan penghasilan,” katanya.
Namun perjalanan usaha itu tidak selalu mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda, permintaan sempat menurun. Roslah berusaha mempertahankan produksi agar para pekerjanya tetap memiliki penghasilan.
“Waktu pandemi memang berat. Untung ada tambahan modal yang membantu kami bertahan. Kalau tidak, mungkin produksinya jauh berkurang,” kenangnya.
Pada masa sulit tersebut, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI membantu menjaga usaha tetap berjalan.
Kepala Unit BRI Sungai Kakap, Sunardi, mengatakan pihaknya terus mendorong pengembangan UMKM agar semakin berdaya saing.
“Melalui berbagai program pemberdayaan dan pembiayaan, kami ingin UMKM bisa tumbuh lebih kuat serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.
Menjelang siang, aktivitas di rumah produksi Kak Ros masih berlangsung. Deretan ikan asin tampak berjejer di bawah terik matahari. Sesekali terdengar canda para pekerja yang saling bersahutan di sela kesibukan mereka.
Roslah berjalan memeriksa hasil jemuran sebelum kembali membantu pekerjanya.
“Selama masih ada ikan dan masih ada yang mau bekerja, saya ingin usaha ini terus jalan,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun dari rumah di Dusun Merpati tersebut, usaha yang dirintis hampir 20 tahun lalu telah menjadi tempat bergantung bagi belasan perempuan pesisir yang setiap hari mengolah hasil laut menjadi sumber penghidupan bagi keluarga mereka. (aep mulyanto)